«

»

Oct 24

Bias Jender Dalam Literatur Islam

  • Sharebar

Jender merupakan istilah yang relatif masih baru. Diskursus tentang jender mulai ramai dibicarakan pada tahun 1977. Pelopornya adalah sekelompok feminis London yang agaknya merasa kurang nyaman dengan istilah-istilah dan isu-isu lama, seperti patriarchal atau sexist (Showalter: 1989). Lalu, apa pengertian jender dan sejauh mana literatur Ilsam mengkaji tema-tema jender?

Secara kebahasaan, kata gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti ”jenis kelamin” (John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, 1983). Kata tersebut, meski belum masuk dalam perbendaharaan Kamus Besar Bahasa Indonesia, namun secara formal kenegaraan sudah lazim digunakan, khususnya di Kantor Menteri Negara Urusan Peranan Wanita.

Dalam terapannya, istilah jender seringkali digunakan untuk menunjukkan ”perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku” (Neufeldt, Webster’s New World Dictionary, 1984). Berbeda dengan kata sex yang secara terminologis menunjukkan ”perbedaan antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi anatomi biologis”.

Bertolak dari pengertian di atas, Dr. Nasaruddin Umar dalam tulisannya yang berjudul ”Perspektif Jender dalam Islam” merumuskan, bahwa jender dapat dimengerti sebagai ”suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi pengaruh sosial budaya. Jender dalam arti ini adalah suatu bentuk rekayasa masyarakat (social constructions), bukannya sesuatu yang bersifat kodrati”. Lebih dari itu, Showalter pernah menggambarkan istilah jender sebagai ”an analityc concept whose meanings we work to elucidate, and a subject matter we proceed to study as we try to define it”.

Inilah yang menarik untuk dikaji. Bahwa jender yang digambarkan oleh Showalter sebagai suatu konsep analisa sosial yang dapat digunakan untuk menemukan gejala ketimpangan sosial yang diskriminatif dan ”menindas”, khususnya terhadap kaum perempuan, pada tataran tertentu pasti akan bersinggungan dengan cara pandang keagamaan yang sudah mengakar dalam alam bawah sadar masyarakat yang menjadi obyek kajiannya. Karena, suatu rekayasa sosial yang terjadi pada masyarakat tertentu, khususnya yang terkait dengan fenomena ketimpangan jender, hampir dapat dipastikan tidak terlepas dari faktor teologis yang mempengaruhi.

Nasaruddin menilai, dimensi teologi jender tersebut masih belum banyak dibicarakan, padahal persepsi masyarakat terhadap jender sesungguhnya banyak bersumber dari tradisi keagamaan. Menurutnya,   banyak fenomena ketimpangan peran sosial berdasarkan jender yang ternyata dilatarbelakangi oleh anggapan teologis bahwa semua itu merupkan divine creation, alias bersumber dari Tuhan.

 

Telaah Historis

Para antropolog mengemukakan, sekitar sejuta tahun yang lalu pernah berlaku sistem sosial yang lebih didominasi oleh kaum perempuan tenimbang kaum lelaki. Maternal system atau pola keibuan ini banyak dianut oleh komunitas savage society (masyarakat liar/praprimitif) kala itu dalam banyak aspek kehidupan bermasyarakat, termasuk pembentukan kepala suku dan penjalinan ikatan kekeluargaan (Evelyn Reed, 1993). Dalam banyak hal, peran sosial kaum perempuan di komunitas masyarakat tersebut lebih menonjol dan dominan dibanding peran sosial kaum lelaki. Keadaan semacam ini terus berlangsung, hingga akhirnya terjadi proses peralihan masyarakat dari model keluarga di bawah kepemimpinan perempuan (matriarchal family) ke model keluarga di bawah kepemimpinan laki-laki (patriarchal family).

Menurut teori Marxis yang kemudian dipertegas oleh Engels, pergeseran peran sosial kaum perempuan tersebut pada hakekatnya lebih merupakan konsekuensi logis dari perkembangan masyarakat yang beralih dari collective production ke private property dan sistem exchange yang semakin berkembang, karena fungsi reproduksi perempuan diperhadapkan dengan faktor produksi (Frederick Engels, The Origin of Family Private Property and State, 1976). Teori ini selanjutnya banyak diamini oleh kalangan feminissosialis sebagai konsep telaah atas stereotip jender yang terjadi dalam suatu masyarakat.

 

“Agama” menduduki urutan terdepan sebagai penyebab utama menancapnya faham patriarki

 

Sementara itu, bagi beberapa kalangan feminis-agamis, sebut saja demikian, muncul hipotesa yang menganggap bahwa agama, khususnya agama-agama Ibrâhimiyyah/Abrahamic religions, menduduki urutan terdepan sebagai penyebab utama menancapnya faham patriarki di dalam masyarakat. Alasannya, karena agama-agama itu, atau sebut saja teks-teks keagamaan yang ada, hingga tataran tertentu terbukti telah memberikan justifikasi terhadap pengakaran faham patriarki. Bahkan, oleh beberapa kalangan disebutkan bahwa agama Yahudi dan Kristen dianggap telah mentolerir faham misogini, suatu faham yang menganggap perempuan sebagai sumber malapetaka, bermula ketika Adam jatuh dari sorga karena rayuan Hawa.

Menariknya, bahwa ternyata ”kesadaran” semacam ini tak ayal terus berkembang hingga merambah dan merasuki ranah tradisi pemikiran Islam paska era Khulafaurrâsyidîn. Bahkan, percikan-percikan dan dampaknya masih banyak kita rasakan saat ini. Kita akan benar-benar merasakannya ketika membaca teks-teks keagamaan (keislaman), mulai tafsir al-Qur’an, syarah-syarah hadis, fikih, tasawuf, dsb, yang di sana sini memaparkan tidak sedikit statemen-statemen yang bias jender.

 

Akar Ketimpangan Teologi Jender

Menurut Nasaruddin, pandangan di sekitar teologi jender tersebut secara umum berkisar pada tiga hal pokok:

  1. Terkait dengan asal-usul kejadian laki-laki dan perempuan;
  2. Menyangkut persoalan fungsi dari keberadaan laki-laki dan perempuan; dan
  3. Berkenaan dengan persoalan perempuan dan ”dosa warisan”.

 

Ketiga hal ini memang dibahas secara panjang lebar dalam Kitab Suci, atau sebut saja tafsir-tafsir Kitab Suci, dari beberapa agama. Mitos-mitos tentang asal-usul kejadian perempuan yang berkembang dalam sejarah umat manusia sejalan dengan apa yang tertera di dalam teks-teks keagamaan tersebut. Mungkin, karena itulah kebanyakan kaum perempuan dengan sukarela mau menerima kenyataan dirinya yang dianggap ”second sexs” sebagai given dari Tuhan. Bahkan tidak sedikit dari mereka merasa happy jika mengabdi sepenuhnya tanpa reserve kepada suami.

Berangkat dari kenyataan ini, tidaklah heran jika para feminis banyak yang memulai pembahasan dan kajiannya dengan menyorot aspek-aspek teologi, seperti cerita tentang tulang rusuk, perempuan sebagai helper Adam, dan pelanggaran Hawa dihubungkan dengan dosa warisan (original sin).

Dalam konteks keislaman, faktor penyebab ketimpangan teologi jender ini dapat dikembalikan pada 5 hal utama:

  1. Pengaruh warisan faham misogini pra-Islam yang merasuk ke dunia pemikiran umat Islam lewat, misalnya, riwayat-riwayat Isra’iliyyât;
  2. Pengaruh tradisi patriarki dari kultur Arab Jahiliyah;
  3. Akibat proses pergesekan kultural antara budaya Islam dengan budaya bangsa Sasania atau Persia yang nota bene dikenal sebagai antiperempuan, alias misoginis. Yaitu, semenjak ibu kota pemerintahan Islam dipindahkan ke Baghdad oleh dinasti Abbasiyah. Uniknya, justeru banyak kitab kuning yang penulisannya terjadi pada masa itu;
  4. Keberadaan teks-teks suci (al-Qur’an & as-Sunnah) yang sifatnya polisemik (mengandung banyak makna/multi tafsir), dimana hal tersebut terbukti telah membuka peluang lebih banyak bagi penafsiran misoginis akibat kuatnya pengaruh tradisi patriarki yang ada;
  5. Jarangnya penafsiran teks-teks keagamaan (Islam) secara holistik, di mana konstruksi pemikiran yang dikedepankan adalah mengembalikan nilai-nilai yang bersifat partikular dan kasuistik (juz’iyyât) kepada nilai-nilai yang universal (kulliyyât) dari ajaran Islam itu sendiri.

Jadi, ketimpangan-ketimpangan pandangan yang misoginis sebenarnya bukan merupakan produk yang khas Islam, tapi sebaliknya ia menyelubung ke dalam ranah pemikiran umat Islam sebagai ”tamu” dari luar. Karenanya, kita butuh melakukan reserve dengan merekonstruksi pembacaan literatur yang inshâf – Jender, bukan bias jender.

Islam menjunjung tinggi asas kesetaraan dan persamaan hak

yang egaliter dan membebaskan

Menuju Pembacaan Yang Inshâf Jender

Pertama sekali, yang penting ditegaskan di sini adalah bahwa ajaran Islam pada hakekatnya merupakan seperangkat keyakinan, pandangan hidup dan sistem nilai yang merepresentasikan ”suara” Tuhan di muka bumi. Jika kita meyakini Tuhan itu adil, tidak suka kecurangan dan penindasan, juga Dia itu Maha Rahmat lagi Maha Pengasih dan Penyayang, maka sudah tentu ajaran yang merepresentasikan ”suara”Nya juga bersifat demikian.

Lalu, jika disepakati bahwa perlakuan diskriminatif yang menganggap minor dan memarginalkan kaum perempuan akibat perspektif yang bias jender itu termasuk tindakan yang ”menindas” dan tidak adil, maka ini hanya berarti bahwa Islam pada dasarnya tidak membenarkan hal tersebut. Artinya, Islam anti-ketidakadilan jender. Karena itu Islam sama sekali tidak merekomendasikan paham-paham dan pandangan-pandangan yang memposisikan jenis kelamin laki-laki sebagai lebih tinggi dari jenis kelamin perempuan, hanya gara-gara yang satu dilahirkan sebagai laki-laki dan yang lain sebagai perempuan.

Sebaliknya, Islam menjunjung tinggi asas kesetaraan dan persamaan hak yang egaliter dan membebaskan, mengutamakan pola interaksi kemiteraan yang penuh rahmat dan sinerjis, serta mengesampingkan segala bentuk klasifikasi terhadap suku-suku, bangsa-bangsa, juga terhadap laki-laki dan perempuan, berdasarkan strata, status sosial dan ketidakadilan jender.  Karena yang dinilai oleh Tuhan adalah kualitas dan kapasitas diri serta ketakwaan masing-masing. Ini berlaku untuk seluruh umat manusia, tanpa pengecualian (lihat QS. al-Hujurât/49: 13).

Bahkan, dalam konteks kesetaraan dan persamaan hak berdasarkan jender Nabi pernah bersabda bahwa ”kaum perempuan itu ibarat saudara kandung bagi kaum laki-laki” (HR. Ahmad, Abu Dâud, Tirmizi dari ‘Aisyah, dan Bazzar dari Anas). Dalam QS. al-Baqarah/2: 228 Allah juga berfirman, ”…Dan bagi meraka (kaum perempuan) terdapat hak-hak yang sebanding dengan kewajiban yang ditanggung”.

Inilah konsepsi dasar Islam mengenai jender. Secara metodologis, teks-teks yang mengandung nilai-nilai universal yang sangat mendasar di atas pada gilirannya menjadi ”kulliyyât” (patron-patron universal) atau ”min ‘umûmât al-syarî’ah” (tergolong konsep umum syari’ah) yang pada tataran selanjutnya mesti diposisikan sebagai koridor pemikiran atau semacam perspektif dasar bagi pembacaan terhadap teks-teks lain yang nota bene bersifat ”juz’iyy” dan partikular. Jadi, teks-teks dalam al-Qur’an dan as-Sunnah yang karena bersifat polisemik terbuka peluang untuk ditafsirkan secara misoginis dan patriarkis, pada gilirannya mesti dita’wîl atau dimaknai sedemikian rupa agar tidak lagi bias jender. Maksudnya, agar pembacaannya bisa sejalan dan tidak mengalami kesenjangan terhadap nafas kesetaraan jender sebagaimana diamanatkan oleh teks-teks universal tersebut.

Bahkan, karakter bahasa Arab yang dinilai oleh beberapa kalangan sebagai ”berpotensi bias jender” juga mesti kita perlakukan secara kontekstual, bahwa itu sekedar sebagai sarana penyampaiaan yang bersifat ”duniawi” dari pesan-pesan Tuhan yang bersifat transenden. Nah, makna transenden itulah yang mesti didahulukan, bukan kesan misoginitas bahasa yang sebenarnya hanya sebagai sarana komunikasi yang nota bene pasti terbatas dan tidak mutlak, sementara Tuhan Maha mutlak dan tidak terbatas. Jadi, jangan sampai makna yang suci dan pesan-pesan rabbânyy yang universal dan ”tak terbatas” itu tereduksi oleh kungkungan sarana kebahasaan dan konteks kultur yang partikular dan ”terbatas”.

 

Islam melalui al-Qur’an sangat kontekstual dan boleh dikata ”akrab kultur”

 

Yakin saja, bahwa dalam Islam tidak dijumpai nash-nash yang shahîh (otentik) dan sekakigus sharîh (eksplisit) yang bias jender, atau mungkin ditafsiri secara misoginis, kecuali bisa dicarikan interpretasi alternatif yang tidak bias jender. Salah satunya dengan cara membaca

teks-teks tersebut dengan metode hermeunetik dan manhaj isqâthi, yaitu suatu cara membaca teks ”terdahulu” dengan melihatnya sebagai produk kultur pada masanya yang erat pertaliannya dengan konteks saat itu, karenanya ia terpisah dengan konteks masa sekarang, namun bisa dijadikan bahan refleksi untuk diserap nilai-nilai universal yang terkandung di balik teks tersebut.

Yang juga perlu dipahami di sini adalah, bahwa ajaran Islam yang termanifestasikan ke dalam al-Qur’an dan as-Sunnah dalam proses penurunannya ternyata menggunakan metode tadarruj/secara bertahap, bukan secara jumlatan wâhidah/sekali turun satu paket. Tujuannya, agar Nabi menjadi semakin mantap akan kandungan ajaran-ajarannya (QS. al-Furqân/25:32). Karena, sebagaimana dijelaskan oleh al-Zamakhsyari dalam tafsirnya al-Kasysyâf, kebanyakan ayat al-Qur’an diturunkan ”hasba al-dawâ’i wa al-hawâdiº wa jawâbât al-sâ’ilîn” (sesuai dengan tuntutan konteks, peristiwa dan sebagai jawaban atas persoalan-persoalan yang dipertanyakan).

Kenyataan ini menunjukkan bahwa Islam melalui al-Qur’an sangat kontekstual dan boleh dikata ”akrab kultur”. Karena itu, proses rekayasa sosial yang digagas oleh Islam untuk mengantarkan umat manusia menuju khaira ummah (umat terbaik) dan ummatan wasatha (poros umat yang moderat) tentunya melalui tahapan-tahapan antropologis-sosiologis. Jadi, di dalam ranah pergerakan Islam terdapat masa-masa transisi hingga tercapai perubahan dan pembebasan yang diinginkan.

Dengan begitu, di dalam Islam (pesan-pesan al-Qur’an) terdapat hal-hal yang sudah final dan tuntas (al-tsawâbit), seperti persoalan pokok-pokok keimanan, akhlaq serta prinsip-prinsip dan nilai-nilai universal, juga terdapat hal-hal yang belum final dan tuntas (almutaghayyirât), khususnya yang terkait dengan pranata dan sistem sosial. Nah, dalam wilayah al-mutaghayyirât inilah Islam mesti didialogkan dengan konteks dan realitas sosial yang terus berkembang, berdasarkan asas kebenaran dan keadilan (al-khair), serta asas berlandaskan asas kepatutan lokal yang ”ramah kultur” (al-ma’ruf). Dari situlah akan menjadi tampak bahwa Islam merupakan agama yang ”shâlih li kulli zamân wa makân” (relevan untuk diterapkan di mana pun dan kapan saja). Dengan begitu Islam akan benar-benar hadir dan membumi dengan nuansanya yang khas sebagai rahmatan li al-’âlamîn, sekialigus sebagai agama yang inshâf jender. Sederhana bukan!

 

 

Umar Fayumi

-  Staf & Tim FK3 Puan Amal Hayati

-  Alumni Ma’had Awali Mekkah