«

»

Oct 31

Kesehatan Reproduksi dan Gender

  • Sharebar

Kesehatan Reproduksi (kespro) sebagai satu konsep baku telah diluncurkan sejak 13 tahun yang lalu dalam konferensi PBB tentang Kependudukan dan Pembangunan di Cairo (1994) dan Pemerintah Indonesia juga ikut menandatangani Dokumen Rencana Aksinya. Namun dalam implementasinya kebijakan dan program kesehatan reproduksi di Indonesia masih belum ditempatkan sebagai prioritas, yang pada akhirnya berdampak kepada anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan kesehatan reproduksi.

Padahal dalam program-program kespro, kegiatan preventif yang harus diutamakan dan kedua belah pihak, baik laki-laki maupun perempuan, harus memperoleh informasi, edukasi,  konseling terkait dengan kespro. Kespro tidak bisa terlepas dari pengetahuan tentang seksualitas, karena menyangkut relasi antara laki-laki dan perempuan, yang pada gilirannya harus saling respek dan saling melindungi diri dalam relasi tersebut. Oleh karena itu, semua orang tidak terkecuali petugas kesehatan perlui untuk mengetahui, memahami dan mentaati pemenuhan hak reproduksi setiap individu.

 

Pendekatan Siklus Hidup

Kesehatan Reproduksi dalam implementasinya harus menggunakan pendekatan siklus hidup, karena memang sejak seseorang dilahirkan, pada kenyataannya, perlakuan terhadap dirinya seringkali masih dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Kelahiran seorang anak perempuan dirayakan hanya dengan seekor kambing, sedangkan bayi laki-laki dirayakan dengan 2 ekor kambing. Kegiatan di rumah tangga seringkali hanya dibebankan kepada anak-anak perempuan mereka, bahkan ada budaya tertentu yang membiasakan anak laki-laki makan dengan bapaknya, sedangkan sisanya dimakan ibu dan anak perempuannya. Akibatnya, ± 40% remaja putri di wilayah tertentu mengalami anemia, yang berakibat fatal saat mereka harus melahirkan, karena perempuan anemia berisiko cepat mengalami pendarahan hebat saat melahirkan. Jika pelayanan kesehatan jauh dari tempat tinggalnya, banyak dari perempuan dengan anemia berat ini meninggal saat melahirkan atau dalam masa nifas.

Apalagi banyak perempuan Indonesia sudah dinikahkan saat masih sangat muda umurnya, yang karena organ reproduksinya belum matang mengalami komplikasi saat hamil dan melahirkan. Dengan sendirinya masa remaja, baik bagi laki-laki maupun perempuan perlu mendapatkan perhatian khusus. Konferensi Kependudukan dan Pembangunan di Cairo (1994) tersebut khusus mengamanatkan tentang kesehatan reproduksi remaja beserta hak-hak reproduksinya.

 

Hak Reproduksi Remaja

  1. Hak untuk menjadi diri sendiri: membuat keputusan, mengekspresikan diri, menjadi aman, menikmati seksualitas, dan memutuskan apakah akan menikah atau tidak.
  2. Hak untuk tahu: mengenai hak reproduksi dan seksual, kesehatan reproduksi dan seksual, termasuk kontrasepsi, infeksi menular seksual, HIV dan AIDS, serta anemia.
  3. Hak untuk dilindungi dan melindungi diri: dari kehamilan yang tidak direncanakan, aborsi tidak aman, infeksi menular seksual, HIV dan AIDS, serta kekerasan seksual.
  4. Hak mendapatkan pelayanan kesehatan: secara bersahabat, menyenangkan, akurat, berkualitas dan dengan menghormati hak remaja.
  5. Hak untuk terlibat: dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi program remaja, serta mempengaruhi pemerintah dan pembuatan kebijakan.

 

Remaja harus memiliki informasi kesehatan reproduksi dan seksual agar memahami dan nyaman dengan perkembangan tubuh dan seksualitasnya. Hal ini akan membantu remaja untuk memiliki kemampuan dalam menegosiasikan perilaku seksual yang sehat pada saat ini dan masa datang. Sehingga remaja dapat melindungi diri dari kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi tidak aman, infeksi menular seksual, HIV dan AIDS serta kekerasan seksual. Informasi ini juga akan membantu remaja untuk dapat memahami, menerima dan mempraktekkan hak-haknya dan menghormatinya.

Dalam konsep kesehatan reproduksi, saling melindungi dari penyakit dan kekerasan merupakan kata-kata kunci. Sejak dini seorang laki-laki dan perempuan sudah harus memahami dan menghargai tubuh individu masing-masing. Tidak boleh ada paksaan ataupun kekerasan dalam sebuah relasi, bahkan jika satu pihak sudah mengetahui terkena penyakit menular maka ia wajib untuk tidak menularkan penyakit tersebut kepada pasangannya.

 

Kesimpulan

Ketimpangan gender dalam suatu keluarga atau suatu komunitas akan berdampak buruk terhadap kelangsungan generasi mendatang. Anemia pada perempuan tidak saja berisiko kematian bagi perempuan saat melahirkan, namun juga terhadap bayi yang dilahirkannya. Bayi dengan berat badan lahir rendah jika tidak mendapatkan pertolongan khusus berakibat kematian atau hidup dengan suatu kecacatan. Jumlah istri yang tertular HIV dan AIDS dari suaminya ternyata semakin banyak saja. Ironisnya lagi jumlah bayi yang dilahirkan sudah terinfeksi HIV semakin hari juga meningkat terus.

Seringkali sang ibu baru mengetahui dirinya tertular HIV setelah anak yang dilahirkan berbulan-bulan sakit kronis. Setelah dokter anak mendeteksi anak tersebut sudah tertular HIV maka giliran ibunya diperiksa. Betapa terkejut sang ibu mendengar ucapan dokter: ”Maaf Ibu, hasil tes darah menyatakan bahwa Ibu tertular HIV dan sudah jelas tertular dari suami yang sudah meninggal 6 bulan yang lalu, tanpa Ibu ketahui akibat AIDS, karena gejala yang disebutkan paru-paru basah”.

Institusi agama juga memiliki andil yang cukup besar dalam menetapkan hak yang sama antara perempuan dan laki-laki dalam  semua aspek kehidupan, juga dalam hak kesehatan reproduksi, khususnya melalui program aksi penguatan (empowering), sehingga perempuan mampu merumuskan kepentingan perempuan pada umumnya dan juga bagi dirinya sendiri. Diharapkan tafsir atas teks agama yang bias laki-laki tidak disebarluaskan lagi, namun meluncurkan teks yang mendukung hak reproduksi perempuan, hak kontrol atas tubuhnya dan hak atas pilihan-pilihan yang akan diambilnya dalam proses reproduksi, sepanjang siklus hidupnya.

 

Atashendartini Habsjah, MA

Dosen Kajian Wanita Universitas Indonesia

Staf Ahli Puan Amal Hayati

Istilah

Gender : Perbedaan status dan peran antara perempuan dan laki-laki yang dibentuk oleh masyarakat setempat sesuai dengan nilai budaya yang berlaku dalam periode tertentu. (WHO, 2001)

Kesehatan Reproduksi : keadaan fisik, psikis dan bukan sekedar tidak adanya penyakit atau kelainan pada sistem reproduksi, fungsi maupun proses reproduksi itu sendiri (Alcala, 1995) *) Family Care International (FCI), 1995 di dalam Population Council, 1999