«

»

Nov 01

Pondok Pesantren Nurul Islam (NURIS) Jember

  • Sharebar

Nuris Selayjemberang Pandang

Pondok Pesantren Nurul Islam didirikan oleh KH. Muhyiddin Abdusshomad pada tahun 1981 di pinggiran kota Jember, tepatnya di kelurahan Antirogo kecamatan Sumbersari Jember Jawa Timur. Pesantren ini selanjutnya lebih dikenal dengan nama Pondok Nuris Berdirinya pesantren ini didukung dan direstui oleh sejumlah ulama berpengaruh di wilayah tapal kuda, seperti KH. As’ad Syamsul Arifin Sukorejo Situbondo, KH. Husnan Arak-Arak Bondowoso, KH. Ahmad Shiddiq Jember dan KH. Umar Sumberbringin yang merupakan guru dari KH.Muhyiddin sendiri. Lembaga yang dikelola oleh pesantren ini awalnya adalah Madrasah Diniyah Nurul Islam. Pada tahun 1982 mendirikan SMP Nuris, tahun 1985 mendirikan TK Nuris, pada tahun 1989 mendirikan SMA Nuris dan pada tahun 2003 mendirikan STM Nuris. Jumlah santri Pesantren Nuris saat ini adalah 392 orang, yang terdiri dari 185 santri putra dan 207 santri putri, yang datang dari hampir seluruh Indonesia. Selain jumlah di atas, terdapat santri musengan (colokan) dari luar pesantren yang sekolah dan mengaji di Pondok Pesantren Nuris. Wawasan gender di Nuris mulai tumbuh sejak tahun 1996, yakni sejak halaqah Fiqh Nisa’ P3M dilaksanakan di Pesantren Nuris. Sejak itulah lambat laun Pesantren Nuris berusaha mengubah dirinya dengan mengembangkan sistem pendidikan yang berwawasan gender.

 

Nuansa Kesetaraan Gender Di Nuris

Memang masih terlalu jauh untuk mengkalim Nuris sebagai pondok pesantren gender yang ideal. Masih banyak yang harus dibenahi untuk mencapai tingkatan ideal tersebut. Dalam hal ini, ada beberapa yang telah dilakukan:

  1. Tidak ada pembedaan jenis kelamin. Ciri utama  kesetaraan gender di Nuris adalah tidak adanya segregasi antara santri laki-laki dan perempuan. Hal ini bisa dirasakan misalnya dalam pendidikan formal (SMP, SMA. STM). Siswa-siswi dapat berbaur dan bekerja sama dengan baik. Begitu juga dengan pendidikan non-formal di pesantren. Setiap pengajian diikuti oleh santri-laki dan perempuan secara bersamaan dengan ustadz serta kitab yang sama. Tidak ada sekat dan perbedaan di antara mereka kecuali tempat tidur dan kamar mandi.
  2. Kesempatan Memperoleh Pendidikan. Semua santri Nuris diberi kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan yang layak. Baik santri putra maupun santri putri diberikan hak yang sama untuk memasuki lembaga pendidikan yang disediakan oleh pihak Yayasan ataupun lembaga lain. Dari segi materi pengajaran juga tidak dibedakan antara santri laki-laki dan perempuan. Semua mendapat pelajaran yang sama. Madrasah diniyah yang dikelola pesantren ditangani dalam satu lembaga, sehingga tidak ada perbedaan meteri antara santri laki-laki dan santri perempuan, bahkan mereka dikumpulkan dalam satu kelas.
  3. Materi Pengajaran Yang Berkeadilan Gender. Untuk memantapkan wawasan tentang kesetaraan gender pada para santri, kurikulum pendidikan yang dijalankan di Nuris telah memasukkan materi-materi yang terkait dengan isu kesetaraan gender. Pelajaran Masa’il Fiqhiyah yang menjadi meteri utama Madrasah Diniyah Nurul Islam, di samping menggunakan buku Fiqh yang lain, juga buku Fiqh Perempuan karya KH. Husein Muhammad dan buku panduan pengajaran Fiqh di pesantren menjadi referensi utama.

 

Pada saat ini, pondok pesantren Nurul Islam telah meluncurkan Buku Pelajaran PAI untuk SMA dan Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk SMP berbasis gender. Terlaksananya program ini berkat kerjasama Pondok Pesantren Nuris dengan Yayasan RAHIMA Jakarta dan Majelis Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) SMP-SMA Kab. Jember. Dengan adanya buku ini diharapkan pembekalan dan penanaman wawasan gender akan lebih tertata dengan baik sehinggga akan membuahkan santri-santri yang berwawasan gender.

 

Kesempatan Berorganisasi.

Ada kebabasan bagi santri untuk melakukan aktifitas di berbagai organisasi, baik di lembaga yang dikelola oleh pihak pesantren atau lembaga-lembaga di luar itu. Dalam organisasi intra sekolah (OSIS) SMP atau SMA Nuris, baik laki-laki atau perempuan diberi hak yang sama untuk menduduki jabatan ketua OSIS. Beberapa angkatan kepengurusan OSIS ini, jabatan ketua dipegang oleh santriwati.

 

Hambatan Dan Rintangan

Tidak ada perjuangan tanpa hambatan, itulah yang dirasakan oleh Pondok pesantren Nurul Islam, khususnya dengan misi yang diembannya, yang menurut sebagian kalangan pesantren cukup kontroversial. Diantara hambatan itu adalah:

  1. Hambatan dana. Inilah hambatan terbesar yang dihadapi Nuris untuk memberikan pelayanan kepada para santrinya khususnya, dan masayarakat luas secara umum. Saat ini Nuris sedang membangun beberapa gedung untuk melengkapi fasilitas yang masih dirasakan sangat kurang. Namun usaha itu terhambat oleh pendanaan yang sangat terbatas sehingga penyelesaiannya pun menjadi terhambat
  2. Pandangan masyarakat yang bias gender masih kuat. Tidak jarang pihak pesantren mendapat kritikan dan sorotan dari masyarakat sekitar atau dari pondok pesantren sekitar terkait dengan iklim kebebasan di Nuris yang menurut sebagian kalangan “melanggar norma” yang berlaku di pesantren. Namun itu harus dihadapi dengan sikap dewasa dan bijaksana untuk dijadikan sebagai bahan koreksi demi perbaikan dan masa depan Nuris ke depan, khususnya wawasan gender..
  3. Tenaga pengajar. Seperti pesantren yang lain, kurangnya tenaga pengajar menjadi hambatan dalam proses pembelajaran di pesantren, khususnya tenaga pengajar yang memiliki wawasan dan sensitifitas gender yang baik.