«

»

Jun 02

Tetesan Kasihmu Cerdaskan Perempuan

  • Sharebar

Ibu Nuriyah: “Sudah punya anak berapa, Bu?” Peserta: “Dua, laki-laki dan perempuan”. Ibu Nuriyah: “Dua-duanya masih pada sekolah?” Peserta: “Yang laki-laki masih kuliah, yang perempuan bantu saya di rumah ?” Ibu Nuriyah: “Lho kok begitu, kenapa anak perempuan ibu tidak disekolahkan juga?” Peserta: “Karena nantinya juga akanmenjadi ibu rumah tangga seperti saya…“(Penggalan dialog Ibu Sinta Nuriyah dengan masyarakat Pabedilan, Cirebon dalam acara Ngaji Bangsa 28 April 2008)…..

Kebijakan pemerintah tentang program wajib belajar 9 tahun untuk pendidikan dasar dapat meningkatkan kecerdasan anak-anak Indonesia dengan lebih baik. Pemerintah juga sudah memiliki niatan yang baik untuk mengalokasikan anggaran pendidikan hingga mencapai 20 persen. Namun demikian, kesenjangan pola pendidikan terhadap perempuan dan laki-laki sampai saat ini di Indonesia masih belum bergeser secara signifikan. Pendidikan bagi anak perempuan belum menjadi prioritas sebagaimana halnya pendidikan bagi anak laki-laki. Akibatnya ketimpangan jender masih belum bisa dihapuskan.

Hasil survei yang dilakukan oleh Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2006 merekam kesenjangan yang cukup tajam dalam pemberian kesempatan untuk mengenyam pendidikan bagi laki-laki dan perempuan. Di perkotaan angka putus sekolah (APS) dengan alasan tidak ada biaya lebih banyak terjadi pada anak perempuan (33%) daripada anak laki-laki (31%). Artinya, ketiadaan dana orang tua untuk menyekolahkan anak perempuan lebih menonjol daripada untuk menyekolahkan anak laki-laki.

Periode sekolah bagi anak perempuan, baik di perdesaan maupun di perkotaaan, secara rata-rata, lebih pendek daripada anak laki-laki. Anak perempuan di perkotaan hanya bersekolah rata-rata selama 6,7 tahun dan di perdesaan selama 5,7 tahun. Sementara rata-rata pendidikan anak laki-laki di perkotaan adalah 9,5 tahun dan di perdesaan sekitar 8,5 tahun.

Kesenjangan ini berakibat:

pertama, angka buta huruf anak perempuan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan anak laki-laki. Kesenjangan buta huruf perempuan dengan laki-laki terjadi pada usia 15 tahun dan usia 45 tahun ke atas. Pada usia 15 tahun, sebanyak 11,6% perempuan buta huruf, sedangkan laki-laki sebanyak 5,4%. Pada usia 45 tahun ke atas, perempuan yang buta huruf sebanyak 29%, sedangkan laki-laki ‘hanya’ 13%.

Kedua, anak perempuan yang bisa menamatkan SLTA/sederajat dan perguruan tinggi juga lebih sedikit jika dibandingkan dengan anak laki-laki. Fenomena lainnya, anak perempuan akan menjadi korban dari praktek pernikahan dini dan korban dari norma masyarakat yang merugikan perempuan, misalnya pandangan bahwa anak perempuan lebih diperlukan dalam membantu menyelesaikan tugas sehari-hari di rumah dan setelah menikah nantinya akan menjadi ibu rumah tangga yang hanya mengurusi masalah dapur, sumur, dan kasur. Sedangkan anak laki laki menjadi kepala keluarga yang memiliki tanggung jawab yang lebih besar dan diharapkan akan menopang kelangsungan hidup keluarga.Fakta-fakta di atas tentunya menjadi tantangan bagi tersedianya sumber daya perempuan yang berkualitas. Ini berarti, bagi anak perempuan, kesempatan untuk bisa memperoleh pekerjaan yang lebih baik dan menempati posisi yang menentukan di berbagai sektor juga lebih kecil jika dibandingkan dengan anak laki-laki.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka penyediaan akses pendidikan gratis dan bantuan beasiswa merupakan salah satu program yang terintegrasi dalam kegiatan pemberdayaan perempuan yang dilakukan Puan Amal Hayati. Dalam skema penanganan, anak-anak dari perempuan kurang mampu, anak-anak perempuan yang menjadi korban kekerasan, anak-anak perempuan berprestasi dan anak-anak dari ibu-ibu yang rumah tangganya berantakan (broken home) akan mendapat jaminan pendidikan seutuhnya. Sementara perempuan-perempuan dewasa yang mengalami kekerasan juga masih bisa diikutkan dalam berbagai program pendidikan informal khas pesantren seperti pengajian, baca tulis al-Qur’an dan aksara latin, serta pendidikan keterampilan lainnya.

Program bantuan beasiswa ini sudah dijalankan oleh PUAN sejak berdirinya tahun 2000, walaupun memang jumlahnya masih belum signifikan. Hal ini terkait dengan dana yang masih terbatas. PUAN menyadari betul akan kapasitasnya dan betapa kompleksnya permasalahan yang ada di dunia pendidikan pada umumnya, sehingga tidak dapat bergerak sendirian untuk memperbaiki akses terhadap pendidikan perempuan di Indonesia. Agar tujuan tersebut dapat terwujud, maka harus ada dukungan dari berbagai pihak dan masyarakat luas untuk membantu memecahkan permasalahan ini dengan menyisihkan sedikit penghasilannya. Melalui “Telaga Kasih PUAN” sebagai salah satu wadah penggalangan dana untuk pendidikan perempuan di Indonesia diharapkan dapat munculnya semangat untuk saling membantu antar sesama, terutama dalam hal pendidikan bagi anak perempuan. [***] @goes. 

Rekening Donasi
BNI Cabang Margonda Depok
Rek: 016 771 801 2 
a/n : YAYASAN PUAN AMAL HAYATI