«

»

Jun 02

Trafiking Dalam Perspektif Islam

  • Sharebar

Dalam beberapa tahun belakangan ini, Human Trafficking atau perdagangan manusia, dan lebih khusus lagi “Trafficking in Women and Child” (Perdagangan Perempuan dan Anak), menjadi isu paling hangat dan semakin luas dibicarakan di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Trafiking merupakan jenis kekerasan terhadap kemanusiaan yang amat kompleks, dan kejahatan yang sangat mengerikan. Tidak heran kalau banyak orang yang menyebutnya sebagai perbudakan modern.

Secara definitif, trafficking adalah segala tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atau orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar Negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi. (UU PTPPO No. 21/2007).

Tampak jelas dari definisi di atas, bahwa “Trafiking” merupakan kejahatan kemanusiaan yang tidak dapat ditolerir. Kemunculannya telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan, karena terlanggarnya hak-hak asasi manusia, antara lain: hak kebebasan pribadi, hak untuk tidak disiksa, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dengan kedudukan yang sama di hadapan hukum, dan lain sebagainya. Otomatis pelanggaran seperti ini, akan berdampak pada terjadinya kekerasan fisik, psikis, seksual, ekonomi maupun budaya.

Trafiking juga melintasi batas-batas geografis (bersifat lintas sektoral), dan terorganisir dengan sangat rapi. Dalam beberapa kasus, trafiking banyak terjadi pada pekerja migrant. “Sekitar 46 % dari penempatan TKI terindikasi kuat trafficking”, ujar Anis Hidayah, direktur Migrant Care. (Kompas, 25 Maret 2009). Dalam laporan Human Rights Watch tahun 2004 disebutkan: ”Sebagian perempuan pekerja migrant terjebak dalam praktik trafficking dan kerja paksa. Mereka ditipu; kondisi dan jenis pekerjaan tidak sesuai dengan yang ditawarkan. Mereka dikurung dan tidak menerima gaji, sementara dokumen mereka ditahan”. (Kompas, Swara, 26 Juli 2004). Sedang menurut catatan jaringan organisasi Perempuan yang concern terhadap isu ini, sistem paling dominan yang digunakan dalam praktik ini adalah: penipuan, pemalsuan data, penculikan, baik untuk kepentingan ekspoitasi seks atau prostitusi. Dengan demikian, korban trafficking terbesar adalah perempuan dan anak.

Trafiking dalam Perspektif Islam

Fenomena Trafiking (perdagangan manusia) di atas, sungguh telah mengingatkan kita kembali pada praktik-praktik yang pernah terjadi sebelum Islam lahir, atau yang dalam literatur Islam disebut zaman Jahiliah. Dalam era ini, banyak orang yang tidak memahami bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang bebas (merdeka), otonom, setara dan harus dihormati. Oleh karena itu, zaman tersebut disebut zaman jahiliyah (era kebodohan). Kelompok-kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak dan orang-orang miskin, merupakan sasaran penghinaan dan penindasan. Praktik-praktik penindasan oleh yang kuat dan kaya terhadap yang lemah dan miskin, pada masa itu banyak terjadi, dan tidak dianggap sebagai pelanggaran. Di antara manusia yang paling banyak menjadi korban penindasan adalah, perempuan. Mereka dianggap bukan manusia utuh, melainkan hanya separoh manusia, manusia kelas dua, atau bahkan sebagai barang. Kekerasan terhadap mereka dapat terjadi dimana saja, baik di ranah domestic maupun public.

Perbudakan juga popular di zaman itu. Kebanyakan dari mereka adalah kaum perempuan. Mereka diperlakukan sebagai barang yang dapat diperjualbelikan, dan dieksploitasi majikannya untuk mengeruk keuntungan. Umumnya mereka dipekerjakan sebagai pelacur (prostituti), sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an.

Menghapus Diskriminasi terhadap Perempuan

Realitas sebagaimana disampaikan diatas, kemudian diatur dalam sebuah tatanan ajaran Islam, yang meletakkan dasar-dasar kemanusiaan, dan membawa misi pembebasan dan penghapusan segala bentuk tindak kekerasan, eksploitasi, penindasan manusia atas manusia, dan segala bentuk diskriminasi manusia atas dasar apapun. Semua tindakan itu, oleh Islam dipandang bertentangan dan melanggar prinsip Tauhid (Keesaan Tuhan). Teologi ini selalu mengajarkan tentang makna kebebasan (kemerdekaan), kesetaraan dan penghargaan manusia terhadap manusia yang lain. Oleh karena itu, tidak ada keraguan sedikitpun, bahwa segala bentuk diskriminasi dan kekerasan terhadap manusia, adalah pelanggaran terhadap nilai-nilai ajaran Islam, sekaligus melawan Tuhan.

Dalam Islam, manusia adalah makhluk Tuhan yang terhormat. Tuhan menyatakan: “Sungguh Kami benar-benar memuliakan anak-anak Adam (manusia). Kami sediakan bagi mereka, sarana dan fasilitas untuk kehidupan mereka di darat dan di laut. Kami beri mereka rizki yang baik-baik, serta Kami utamakan mereka di atas ciptaan Kami yang lain”.(Q.S. al Isra 70).

Nabi Muhammad SAW dalam pidatonya yang disampaikan di hadapan ummatnya di Arafah pada haji perpisahan antara lain menyatakan: “Ingatlah, bahwa jiwamu, hartamu dan kehormatanmu, adalah suci seperti sucinya hari ini”.

Masih di tempat yang sama, beliau juga me-nyampaikan: “Camkan benar-benar, perlakukanlah pe-rempuan dengan sebaik-baiknya, karena dalam tradisi kalian, mereka diperlakukan sebagai layaknya budak. Kalian tidak berhak atas mereka kecuali memperlakukan mereka secara baik”.
Dalam kaidah fiqh disebutkan: “al Hurr la Yadkhul tahta al Yad” Orang merdeka tidak berada di bawah kekuasaan siapapun.
Nabi SAW bersabda: “La Tadhribu Imaa Allah (Jangan kalian memukul hamba-hamba Allah yang perempuan”.

Secara lebih khusus, al-Qur’an juga bicara tentang perdagangan Perempuan:

“Dan orang-orang yang tidak mampu kawin, hendaklah menjaga kesucian dirinya sehingga Allah menganugerahinya kemampuan. Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian (untuk pembebasan dirinya), hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui kebaikan pada mereka. Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan kepadamu. Dan janganlah kamu paksa budak-budak perempuanmu untuk melakukan pelacuran padahal mereka menginginkan kesucian diri, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa memaksa mereka maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa”.(Q.S. al Nur 24:33).

Ayat di atas, secara singkat dapat disimpulkan menjadi beberapa poin. Pertama, kewajiban melindungi orang-orang yang lemah, terutama atas kesucian tubuhnya. Kedua, kewajiban memberikan kebebasan atau kemerdekaan kepada orang-orang yang terperangkap dalam perbudakan. Ketiga kewajiban menyerahkan hak-hak ekonomi mereka. Hak-hak mereka yang bekerja untuk majikannya, haruslah diberikan. Dan keempat, haramnya mengeksploitasi manusia untuk mencari keuntungan ekonomi dengan cara yang melanggar hukum.

Ayat tersebut sengaja diturunkan Tuhan untuk membatalkan praktik-praktik “trafficking in women” yang umum dilakukan masyarakat Arab ketika itu, meskipun dilakukan oleh seorang tokoh utama kaum Munafiq yaitu Abd Allah bin Ubay bin Salul. Ia memaksa para budak perempuannya melacur untuk kepentingan pribadinya. Para ahli tafsir menyebutkan beberapa nama budak perempuan Ubay bin Salul: Masikah, Mu’adzah Umaymah, Umrah, Arwa dan Qatilah. Mereka juga menceritakan, bahwa Ubay bin Salul telah melacurkan budaknya dengan paksa, bahkan tidak jarang memukuli mereka. Tujuannya antara lain, demi uang (thalaban li kharajihinna), mendapat keturunan orang terhormat, berdarah Quraisy, yang diharapkan akan menjadi pemimpin masyarakat (raghbah fi awladihinna wa riyasah) dan demi mendapat pahala dan kehormatan atau berkah (iradah al tsawab wa al karamah). (Baca: Ibnu Jarir al Thabari, Jami al Bayan ‘an Talwil Aay al Qur-an, XVIII/132, Fakhr al Din al Razi, al Tafsir al Kabir, XXIII/220-221, Ibnu Katsir, Tafsir al Qur-an al Karim, III,288-289, At Thabathabai, Tafsir al Mizan, XV/119).

Firman Tuhan di atas bercerita tentang kasus eksploitasi perempuan dalam statusnya sebagai budak, yang dalam banyak tradisi, dibenarkan. Meskipun demikian, Tuhan tetap melarangnya, apalagi terhadap manusia merdeka. Kecaman Tuhan atas praktik eksploitasi terhadap manusia merdeka, tentu saja jauh lebih keras dari itu.

Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan :
“Ada tiga orang yang kelak menjadi musuhku di hari akhirat. Mereka yang bersumpah untuk setia kepada-Ku, tetapi mereka melanggarnya; mereka yang memperjualbelikan manusia mer-deka, lalu memakan hasilnya; dan mereka yang mempekerjakan buruh, menerima keuntungan darinya, tetapi dia tidak memberinya upah yang semestinya”. (H.R. Imam Muslim).

Penegakan Hak-hak Asasi manusia

Seluruh ulama Islam sejak zaman dahulu sampai hari ini sepakat, bahwa tujuan Islam adalah mewujudkan kemaslahatan. Kemaslahatan dalam hal ini diartikan sebagai perlindungan terhadap hak-hak dasar yang diciptakan Tuhan, yang meliputi perlindungan keyakinan (hak beragama dan berkeyakinan), perlindungan jiwa (hak hidup dan hak tidak dianiaya), perlindungan akal pikiran (hak berpendapat, berkumpul dll), perlindungan berketurunan dan kehormatan diri (hak reproduksi sehat dan tidak dilecehkan, direndahkan dan lain-lain), dan perlindungan harta (hak milik).

Bentuk-bentuk perlindungan manusia di atas, dalam konteks hari ini sejalan dengan apa yang disebut sebagai Hak-hak Asasi Manusia (HAM). Dalam rumusan yang disepakati bangsa-bangsa di dunia, HAM adalah: hak-hak dasar yang melekat pada diri setiap orang sejak ia dilahirkan. Hak ini merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena sifatnya yang demikian, maka ia bersifat universal, dimiliki siapa saja, tanpa melihat latarbelakangnya. Hak-hak ini tidak dapat dicabut atau dikurangi oleh siapapun, kecuali oleh Tuhan.

Abid al Jabiri mengatakan, bahwa hak-hak dasar di atas mengandung makna bahwa, hak-hak tersebut ada, dan berlaku bagi semua orang di manapun ia berada, tanpa membedakan laki-laki dan pe-rempuan, berkulit putih atau hitam, kaya atau miskin. Ia tak terpengaruh oleh kebudayaan dan peradaban apapun (la yuatstsir fiha ikhtilaf al tsaqafat wa al hadharat), melintasi batas-batas ruang dan waktu (ta’lu ‘ala al zaman wa al tarikh). Ia adalah hak bagi setiap manusia, karena ia adalah manusia (‘ala al Insan ayyan kana wa anna kana). (Mohammad Jabid al Jabiri, al Dimuqrathiyyah wa Huquq al Insan, Markaz Dirasat al Wahdah al Arabiyyah, Beirut, cet. II, 1997, h. 145-146.

Cita-cita Islam di atas telah disepakati dalam pertemuan Internasional Negara-negara Islam di Mesir tahun 1990. Pertemuan ini menghasilkan deklarasi kemanusiaan universal yang dikenal dengan “Deklarasi Kairo”.

Deklarasi Kairo ini Memuat Antara lain:
“Manusia adalah satu keluarga, sebagai hamba Allah, dan berasal dari Adam. Semua orang adalah sama dipandang dari martabat dasar manusia, dan kewajiban dasar mereka tanpa diskriminasi ras, warna kulit, bahasa, jenis kelamin, kepercayaan agama, ideologi politik, status sosial atau pertimbangan-pertimbangan lain. Keyakinan yang benar, menjamin berkembangnya penghormatan terhadap martabat manusia ini.” (ps. 1 ayat 1).

“Semua makhluk adalah keluarga Allah, dan yang sangat dicintainya adalah yang berguna bagi keluarganya. Tidak ada kelebihan seseorang atas yang lainnya kecuali atas dasar takwa dan amal baiknya”. (ps. 1 ayat 2).

“Perempuan dan laki-laki adalah setara dalam martabat sebagai manusia, dan mempunyai hak yang dapat dinikmati ataupun kewajiban yang dilaksanakan; ia (perempuan) mempunyai kapasitas sipil dan kemandirian keuangannya sendiri, dan hak untuk mempertahankan nama dan silsilahnya” (ps. 6).

Implementasi Instrumen Hukum

Kita bersyukur kepada Tuhan, bahwa upaya-upaya penanggulangan tindak kekerasan terhadap perempuan, termasuk KDRT dan Perdagangan manusia, telah memperoleh perhatian yang serius dari Negara kita. Sejumlah instrument hukum untuk keperluan tersebut, telah disahkan sebagai hukum positif. Beberapa di antaranya adalah, ratifikasi Konvensi CEDAW tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan, yang dituangkan dalam UU No. 9/1984, UU No. 23/2002 tentang Perlindungan anak, UU No. 23/2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, UU no. 21/2007, tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO), UU no. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan, UU no. 39/2004 tentang Penempatan dan Perlindungan terhadap Pekerja Indonesia di Luar Negeri dan lain-lain.

Instrument hukum ini sejalan dengan cita-cita Islam, sebagaimana diuraikan di atas. Semua regulasi ini cukup menjadi dasar bagi pemerintah Indonesia dan seluruh warga Negara, untuk melakukan upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan dalam berbagai bentuk dan jenisnya. Yang diperlukan kemudian adalah, implementasinya secara sungguh-sungguh, tegas dan konsisten, terutama oleh para penegak hukum.

Penghapusan tindak kekerasan dan penindasan terhadap manusia secara umum, dan perempuan secara khusus, merupakan kewajiban konstitusional, tugas besar kemanusiaan, sekaligus sebagai bentuk pertanggungjawaban, bukan hanya bagi pemerintah, melainkan juga bagi setiap insan kepada Tuhan Yang Maha Esa.***[] HM

KH. Husein Muhammad
Wakil Ketua Puan Amal Hayati

Viagra is the most famous ‘love pill’ in the world, but it is not the only option for you. The majority of men who tried both brand and generic pills state that Cialis (the most famous and top-quality generic drug) works better. It is up to you to decide whether you choose brand pills or buy Cialis, but ED patients state that:
Now it is possible to avoid awkward publicity if you buy Cialis online in our reliable web pharmacy. To purchase Cialis online simply place your order, use your credit card to pay for your pills, cumpara cialis receive your drug per post in a decent package and start your way to perfect men’s health!