«

»

Jun 12

Rencana Strategis Puan Amal Hayati

  • Sharebar

Yayasan PUAN Amal Hayati didirikan oleh sejumlah akademisi, civitas pesantren dan aktivis sosial pada tanggal 3 Juli 2000 di Jakarta dengan tujuan menegakkan keadilan, memberdayakan perempuan, dan menepis segala bentuk kekerasan melalui pesantren, selaras dengan kepanjangan namanya: Pesantren untuk Pemberdayaan Perempuan (PUAN). Yang menjadi landasan visinya adalah “Setiap bentuk kekerasan oleh dan terhadap siapapun adalah bertentangan dengan nilai-nilai moral dan kemanusiaan serta ajaran agama”. Sementara misinya adalah “Melakukan serangkaian upaya untuk menegakkan keadilan dan pemberdayaan bagi perempuan terutama yang menjadi korban kekerasan melalui pendampingan, advokasi, dan pengkajian kitab-kitab agama serta menjadikan pesantren sebagai basis gerakan. Untuk melancarkan jalannya roda perjuangan, maka pada periode 2007-2010 Puan Amal Hayati (PAH) membentuk lima divisi. Pertama, Divisi Pendampingan (Divisi Konseling dan Advokasi atau Divisi Paralegal), kedua, Divisi Kajian Kitab Kuning (FK3 [Forum Kajian Kitab Kuning]), ketiga, Divisi Kemanusiaan, keempat Divisi Pluralisme, dan kelima Divisi Publikasi. Tugas utama Divisi Pemdampingan adalah melakukan konseling dan mendampingi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), korban kekerasan di tempat kerja, politik dsb., secara litigasi dan non-litigasi, juga mengadakan pelatihan-pelatihan bagi calon-calon paralegal. Program Divisi Kajian Kitab Kuning adalah mengeksplorasi kitab-kitab kuning yang masih bias gender dengan tinjauan kontekstual dan perspektif gender, lalu mensosialisasikannya ke pesantren dan ke masyarakat umum untuk meminimalisir terjadinya kekerasan berbasis gender yang bersifat kultural, sosial dan agama. Divisi Kemanusiaan membantu Divisi Pendampingan dalam memberdayakan para korban dan anak-anak korban KDRT, memberi bantuan dana pendidikan bagi anak-anak yang kurang mampu, dan memberi bantuan kemanusiaan untuk korban-korban bencana alam maupun penyandang cacat. Divisi Pluralisme bergerak merangkul beragam kepercayaan untuk peduli pada kemanusiaan, sambil menyosialisasikan hasil kajian kitab kuning dan anti kekerasan berbasis gender, serta berencana menggagas program “pluralisme berperspektif gender berbasis pesantren”. Berbagai kegiatan yang dilakukan PAH tersebut selanjutnya dipublikasikan oleh Divisi Publikasi baik melalui media massa, media elektronik maupun melalui internet. Sejak berdiri hingga sekarang, Puan Amal Hayati telah memiliki enam rekan kerja di seanteroo Pulau Jawa dan empat pesantren pendukung se-Jabodetabek. Rekan kerja tersebut adalah PAH Nurul Islam (Jember – Jawa Timur), PAH Aqidah Usmuni (Sumenep -Madura), PAH Al-Islahiyah (Malang – Jawa Timur), PAH Cipasung (Tasikmalaya – Jawa Barat), PAH Syeh Abdul Qadir Jailani (Probolinggo – Jawa Timur), dan PAH As-Sakienah (Indramayu – Jawa Barat). Adapun empat pesantren pendukung Puan di Jabotabek: Pesantren An-Nur (Bekasi), Pesantren Al-Hamidiyah (Depok), Pesantren Al-Kinaniyah (Pulomas – Jakarta Timur), Pesantren Al-Mukhlisin (Ciseeng, Bogor). Pada waktu dekat akan dibentuk PAH Darun Nadwah di Nusa Tenggara Barat dan PAH Hidayatul Mubtadiin di Pandeglang, Banten. Selain itu Yayasan Puan Amal Hayati juga akan menambah pesantren pendukung se-Jabodetabek, di antaranya Pesantren An-Nuriyah (Ciganjur – Jakarta Selatan). Mengenai pendanaan, Yayasan Puan Amal Hayati memiliki beragam donatur yang tidak mengikat. Adapun lembaga donor yang pernah bekerja sama dengan PUAN adalah Ford Foundation, The Asia Foundation dan, sekarang, UNFPA (United Nations Population Fund). Pada usianya yang ketujuh ini, PAH telah melakukan berbagai macam kegiatan, antara lain menyelenggarakan forum mendengar perempuan berbicara soal kekerasan. Seluruh divisinya juga sudah berjalan namun masih perlu pembenahan di sana-sini. Demikian pula program-program yang sudah dan akan dilaksanakan (workplan 2007-2010) perlu dirumuskan kembali. Visi dan misinya pun perlu ditinjau ulang agar lebih mantap dalam bergerak. Di samping itu, sistem internal Yayasan PAH yang bertalian dengan relasi antara Yayasan PAH pusat dengan cabang-cabangnya maupun pesantren-pesantren pendukungnya perlu ditinjau ulang dan disusun kembali sesuai dengan visi dan misi PAH. Atas dasar itu, Yayasan Puan Amal Hayati berencana menyelenggarakan Strategic Planning dengan fokus merumuskan kembali gerak laju PAH secara internal dan eksternal, untuk mengetahui sejauh mana kekuatan, kelemahan, peluang yang dapat diperoleh, dan tantangan yang harus dihadapi dan diatasi. (Zainul Maarif)