«

»

Jul 09

Hj. Sinta Nuriyah Terima Penghargaan Universitas Soka Jepang

  • Sharebar

Isteri mendiang KH. Abdurrahman Wahid, Hj. Sinta Nuriyah Wahid, menerima penghargaan dari Soka Women’s College Universitas Soka, lembaga pendidikan yang didirikan Soka Gakkai International (SGI).

Penghargaan bertajuk “Soka Women’s College Comendation of Friendship” itu diterima mantan ibu negara Indonesia tersebut atas jasa-jasanya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan di tanah air. “Usaha tak henti-henti yang dilakukan Sinta Nuriyah untuk belajar dan berjuang mengatasi berbagai rintangan  merupakan suri teladan terbaik bagi Soka Women’s College sekaligus cahaya harapan yang menyinari jalan memperkaya menuju abad kemenangan kaum perempuan,” demikian bunyi piagam penghargaan Soka Women’s College tertanggal 27 Juni 2012.

Universitas Soka pertama kali dibuka 2 April 1971. Bangunan didirikan di Hachioji di pinggiran kota Tokyo. Oleh sang pendiri, Daisaku Ikeda, universitas ini diharapkan mampu mewujudkan tiga prinsip penting: tempat belajar tentang kemanusiaan, tempat lahirnya budaya baru, dan menjadi benteng perdamaian bagi umat manusia.

Kini universitas memiliki lebih dari 50 ribu alumni yang sudah berkiprah di Jepang dan dunia internasional. Kampus dilengkapi sejumlah fasilitas dan bangunan memadai seperti Auditorium Ikeda yang dibangun pada 1991 berkapasitas 4.000 orang, gedung administrasi, kelas utama, dan pusat bahasa. Soka Women’s College merupakan salah satu pusat pendidikan untuk perempuan di bawah Universitas Soka.

SGI sendiri merupakan gerakan komunitas penganut Budhisme Nichiren yang kini memiliki anggota di seluruh dunia sebanyak 12 juta anggota di 192 negara dan wilayah. Dilembagakan pada 1975, pada 1979 lembaga tersebut berhasil menjadi anggota NGO (Non-governmental Organization) di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Lembaga tersebut dikenal punya perhatian untuk berbagai kegiatan perdamaian, kebudayaan dan pendidikan.

Setelah menerima penghargaan, Sinta Nuriyah yang juga pendiri lembaga non-pemerintah untuk isu-isu pemberdayaan perempuan Puan Amal Hayati ini juga memberi kuliah di hadapan lima ratusan mahasiswi Soka Women’s College, di Gedung Pusat Univeritas Soka di kota Hachioji Tokyo, Rabu siang (27/06). Di hadapan peserta, Sinta Nuriyah menjelaskan peran penting perempuan bagi kehidupan sebuah bangsa dan negara. Menurutnya, sekolah pertama justru diperankan oleh seorang ibu.

Pada selasa malam (26/06), Sinta Nuriyah yang ditemani puteri kedua Yeny Zannuba Wahid, menantu Dhohir Farisi, dan puteri bungsunya, Inayah Wulandari, itu juga dijamu makan malam oleh Hiromasa Ikeda, Vice Presiden SGI yang juga putera Daisaku Ikeda.

Dalam kunjungan empat hari (25 – 28 Juni) di negeri Sakura itu, Sinta Nuriyah dan keluarga juga diajak mengunjungi pusat seni dan kebudayaan yang didirikan dan dikembangkan Soka Gakkai. Di antaranya Pusat Budaya Min-On, Selasa (26/06) pukul 10.30 waktu setempat. Di tempat itu, rombongan melihat barang-barang seni bernilai tinggi salah satunya biola berumur ratusan tahun yang pernah dimainkan musisi legenderis Ludwig van Beethoven.

Min-On dibuka pertama kali 1 September 1997. Memiliki tujuh lantai dan dua lantai bawah tanah, pusat kebudayaan ini di antaranya berisi museum musik, perpustakaan, studio latihan dan kantor-kantor administratif Min-On Concert Association, lembaga induk tempat Pusat Kebudayaan Min-On bernaung. Min-On Concert Association sendiri dibangun pada 1963 dan hingga kini tercatat mensponsori lebih dari 1,100 pertunjukan tiap tahunnya. Dari stasiun Shinanomachi JR, di jantung Shinjuku Ward, pusat kebudayaan Min-On ditempuh hanya tiga menit berjalan kaki.

Selain itu rombongan juga mengunjungi dan melongok ruangan Universitas Soka yang megah dan Tokyo Makiguci Memorial Hall. Gedung yang berdiri indah di Hachioji dibangun demi menghormati presiden Soka Gakkai pertama: Tsunesaburo Makiguchi (1871-1944).

Di Indonesia lembaga Soka Gakkai didirikan 13 Juli 2004 dan tergabung dalam jaringan komunitas penganut Budhisme Nichiren yang kini telah mencapai lebih dari 12 juta anggota di 192 negara dan wilayah.

Sebagai aktivis dan dan filsuf Budhis, Daisaku dikenal tokoh dunia yang banyak menggelar dialog kebudayan dengan tokoh-tokoh dunia lain termasuk Gus Dur. Hasil dialog-dialog tersebut dan sejumlah karya lain telah diterbitkan dalam lebih dari 32 bahasa. Di Indonesia, dialog Daisaku dan Gus Dur dibukukan dalam Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian yang diterbitkan Gramedia 2010. Di buku setebal 310 halaman ini mereka membicarakan hal yang mungkin dianggap remeh temeh hingga perkara besar seperti wacana membangun peradaban dan perdamaian dunia. [***] sumber : Wahidinstitute.org.